Sabtu, 05 April 2014

Bermimpi Naik Haji atau Umroh

Bermimpi Naik Haji dan Umroh


Barang siapa yang bermimpi naik haji sesuai dengan ajaran islam, berthowaf mengelilingi baitulloh dan melaksanakan manasik, berarti melambangkan : Bahwa dirinya telah melaksanakan ajaran agama dengan baik dan istiqomah, akan mendapatkan pahala, aman dari ketakutan, bisa melunasi hutangnya dan bisa melaksanakan amanat yang dipercayakan oleh kaum muslimin kepadanya.


"Apabila seseorang bermimpi pergi naik haji pada musimnya, jika ia dipecat dari jabatannya, maka akan segera mendapatkan kembali jabatannya"
"Apabila orang yang mengalami mimpi tersebut dalam bepergian, maka akan selamat, jika seorang pedagang, maka akan mendapatkan keberuntungan, jika sakit akan sembuh, jika punya hutang akan bisa melunasinya, jika belum naik haji akan segera naik haji dan jika dalam kesesatan maka akan mendapat petunjuk dari Alloh Swt".
"Apabila seseorang bermimpi naik haji atau umroh, maka ia akan berumur panjang dan segala urusannya akan diterima"
"Apabila masih membujang berarti ia akan segera menikah, dan apabila sudah beristri akan menceraikannya.
"Barang siapa bermimpi ihrom bersama dengan istrinya, berarti ia akan menceraikannya dan istrinya itu menjadi haram bagi dirinya".



Sumber dari : Kitab Ta'thir Al-anam

Siapakah Waliyulloh Itu ?


        
Waliyulloh adalah kekasih Alloh, yang mencurahkan seluruh waktunya untuk menjalankan perintah-perintahnya, baik amal wajib maupun sunnah, serta menjauhi larangan-larangannya, baik perkara haram maupun makruh. 
Oleh karna itu, seorang Wali akan selalu mendapat perlindungan dari Alloh Swt, kapan pun dan dimana pun ia berada.
       Berkatalah Imam Al-Qusyairi r.a di kitab Is'aad ar-Rofiiq, jus 2, hal :126 :
Wali itu memiliki dua arti :
1. Mengikuti wazan فَعِيْلٌ  dengan menggunakan makna مَفْعُوْلٌ yaitu : "Orang yang segala urusannya di kuasai oleh Alloh Swt".
Allah Swt telah berfirman : Dan dia melindungi orang-orang yang saleh (al-a'raaf : 196).
Alloh tidak sekejap pun mempercayakan urusan seorang wali kepada dirinya sendiri, namun Alloh sendiri yang memberikan perlindungan kepadanya.
2. Mengikuti wazan فَعِيْلٌ merupakan mubalaghoh dari isim فَاعِل , yaitu : "Orang yang selalu melaksanakan ibadah kepada Alloh"

       Kewaliyan itu sendiri ada dua macam :
1. Wali dalam pengertian yang umum, yaitu kewalian disebabkan oleh keimanan.
Menurut pengertian ini, setiap orang mukmin bisa disebut Waliyulloh ( kekasih Alloh)
 
       Disebutkan dalam suatu riwayat, di kitab Ihya' Ulumuddin Rosululloh Saw bersabda : "Sesungguhnya Alloh telah memuliyakan Ka'Bah, dan seandainya seorang hamba merobohkan ka'bah dengan menghancurkan bebatuannya satu-persatu, maka dosanya tidak akan melebihi orang yang melecehkan salah seorang diantara wali-wali Alloh". 
Seorang A'robi bertanya  : " Siapakah wali-wali Alloh itu wahai Rosul ?".
Rosululloh menjawab : "Semua orang yang beriman itu wali-wali Alloh, adakah engkau tidak mendengar Alloh Swt berfirman : Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).( Al-Baqoroh : 257)
        Rosululloh Saw bersabda di Kitab Quutul Quluub :
                "  Orang mukmin lebih utama dari ka'bah "

        Rosulullo Saw bersabda :
 " Orang mukmin itu harum semerbak, suci dan menurut Alloh lebih mulia dari pada malaikat "

2. Wali dalam pengertian khusus ialah kekasi Alloh mencurahkan seluruh waktunya untuk beribadah kepada Alloh dan segala urusannya mendapat perlindungan secara langsung dari Alloh Swt.
        Berkata Syaikhul Islam di Kitab Is'aad ar-Rofiiq juz 2 halaman 126 :
" Kewalian itu ada yang bersifat umum dan ada yang khusus.
Kewalian yang umum adalah kewaliyan yang disebabkan keimanan menjalani apa-apa yang diperintahkan.
Kecintaan Alloh Swt dan pemeliharaannya kepada hambanya".
                
            Waliyulloh dengan kewaliannya yang khusus ini adalah orang yang sudah bisa melepaskan diri dari pengaruh nafsunya. Sehingga tidak merasa punya daya dan kekuatan apa pun, karna segala urusannya diserahkan sepenuhnya kepada Allah Swt.

Tanda-Tanda Kewalian

               Abu Ali ad-Daqoq dan muridnya, Abu Qosim al-Qusyairi berpendapat (kitab jami'u karomaatil Auliya', juz 1, hal 28) : " Seorang wali bisa saja mengetahui bahwa dirinya itu wali, karena sesungguhnya kewalian terdiri dari dua bagian yang tak terpisahkan, yaitu :
Dhohirnya selalu tunduk kepada Syareat dan batinnya tenggelam dalam nur hakekat.
Pengertian dalam nur hakekat disini adalah Sangat bergembira mengerjakan ketaatan, merasa senang berdzikir kepada Allah dan jiwanya tidak merasa tenang kecuali bersama Alloh.

      Sementara itu Abu Bakar bin Faruq berpendapat :
" Seorang wali itu tidak mungkin mengetahui  bahwa dirinya wali ".
       Seorang wali tidak mengetahui bahwa dirinya itu wali, didasarkan atas beberapa Hujjah, antara lain :
Pertama : Seandainya seseorang wali mengetahui bahwa dirinya wali, niscaya akan merasa aman dari azab Alloh. Sedangkan orang-orang mukmin itu tidak boleh merasa aman dari azab.
      Alloh berfirman : " Tiada yang merasa aman dan azab Alloh kecuali orang-orang yang merugi" (al-A'raaf :99).
  Sebagaimana seorang mukmin tidak diperbolehkan merasa putus asa dari rahmat Alloh.
Alloh berfirman : " Sesungguhnya tiada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, Kecuali orang-orang yg sesat " (Al-Hijr :56)
               " Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Alloh melainkan kaum yang kafir". (Yusuf: 87)

         Meskipun seseorang telah banyak mengerjakan amal kebajikan, namun semua ini masih digantungkan atas kehendak Alloh Swt.
Tidak serta merta, kemudian merasa dirinya itu menjadi kekasih Alloh.
         Seseorang yang merasa aman dari azab Alloh, karena merasa dirinya menjadi kekasihnya, berarti menafikan sifat ubudiyyah (penghambaan) yang melekat pada dirinya. Karna seharusnya seorang hamba itu senantiasa merasa takut dan khawatir akan mendapatkan murka dari Alloh Swt.
    Alloh Swt berfirman :
" Dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami". (Al-anbiya' :90).

Kedua  : Seseorang menjadi wali itu bukan karna kecintaanya kepada Alloh, namun karena kecintaan Alloh kepada dirinya. Sementara itu, kecintaan dan kebencian Alloh terhadap hamba-hambanya itu merupakan rahasia yang tidak bisa diketahui oleh siapa pun.

         Sesungguhnya amal ibadah yang dilakukan oleh para hamba itu merupakan sesuatu yang baru datang, sedangkan kecintaan Alloh kepada hambanya itu merupakan sesuatu yang qodim. Sesuatu yang baru datang (hawadist) sudah barang tentu tidak akan membawa dampak terhadap sesuatu yang qodim.

Mungkin saja seseorang menurut lahiriyahnya berbuat durhaka, namun menurut ketentuan dizaman azali ditaqdirkan menjadi kekasih Alloh. Demikian juga seseorang menurut lahiriyah berbuat baik, namun dizaman azali dicatat sebagai musuh Alloh.

     Berkata Nabi Isa Alihissalam : "Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engakau. Sesungguhnya Engkau maha mengetahui perkara yang goib-goib". (Al-maidah :116)


Ketiga  :   Ketentuan apakah seseorang termasuk ahli surga atau ahli neraka adalah manakala kematian telah tiba. Dengan dalil firman Alloh :
Barang siapa membawa amal yang abaik, maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya" (al-an'am:160).

      Alloh tidak mengatakan barang siapa melakukan amal baik, namun Alloh mengatakan barang siapa membawa amal baik.  Ini menunjukkan bahwa pahala itu akan diberikan dengan melihat akhir dari amal itu sendiri, tidak melihat kepada permulaannya.

Seperti halnya orang kafir yang masuk islam, akan dihapus segala amal keburukannya sewaktu dia masih kafir. Alloh berfirman :
 " Katakanlah kepada orang-orang kafir itu : Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Alloh akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu". (al-anfal:38).

         Seseorang akan menjadi penghuni surga, neraka atau menjadi wali alloh itu dilihat dari kesudahan amalnya, yakni disaat ajal datang menjemput, apakah seseorang mati dalam keAdaan husnul hotimah atau su'ul hotimah. Sedangkan akhiran amal itu sendiri tidak bisa diketahui oleh siapa pun, kecuali Allah Swt.

         Waliyulloh adalah mahluk yang sudah bisa menundukkan hawa nafsunya dari iming-iming duniawi maupun ukhrowi(akhirat), ia beramal karna kecintaannya kepada Alloh belaka, tidak mengharapkan pahala dan tidak karena takut siksa. Tidak berharap surga dan tidak karena takut neraka.
      Berkata Ibrohim bin Adham kepada salah seorang muridnya (kitab Siroj athTolibin juz 1 hal:16) :
" Adakah engkau ingin menjadi wali ? Jangan sekali-kali engkau menyukai perkara duniawi maupun ukhrowi serta kosongkan dan hadapkanlah hatimu hanya kepada Alloh semata, agar Alloh menerima dirimu dan memberikan pertolongan kepdamu ".

      Berkata yahya bin mu'adz (siroj athTholibin juz 1 hal 16-17) :
" Mereka adalah hamba Alloh yang telah merasakan ketentraman batin, setelah menahan penderitaan dan menetapi kebahagiaan setelah memerangi hawa nafsunya, sebab mereka telah mencapai maqom kewaliyan".
      

Wali Hawariyyun

                   Wali Hawariyyun dalam setiap zaman hanya ada 1 orang saja, tidaklah kurang dan tidaklah lebih, Ketika ia wafat maka akan digantikan orang lain oleh Alloh.
Pada zaman Rosululloh Saw yang memiliki Maqom ini adalah Zubair bin Awwam.
Hawariyyun adalah seorang wali yang memperjuangkan agama Alloh dengan hujjah dan pedang.
Alloh Swt memberikan kepadanya ilmu agama, ketekunan beribadah, hujjah yang kuat dan keberanian dalam bertindak.
Mereka berusaha keras untuk mempertahankan kebenaran agama menurut Syari'at Nabi Muhammad Saw.
        Berkata Ibnu al-'Arobi :
"Menegakkan Syari'at agama dengan menggunakan Hujjah (argumentasi) adalah laksana mu'jizat yang dimiliki oleh seorang Nabi.
Setelah Rosululloh Saw wafat, tiada seorang pun yang benar-benar menegakkan ajarannya dengan berdasarkan dalilnya kecuali orang yang memiliki Maqom Hawariy.
Ia mewarisi Mu'jizat Nabi dan menegakkannya sebagai bukti akan kebenaran.
Inilah Maqom seorang wali yang bergelar Hawariyyun.



Itulah keterangan dari Wali Hawariyyun, semoga bermanfaat bagi kita..
Amiiin

Wali Nujaba'

                    Mereka dalam setiap zamannya hanya ada 8 orang saja, tidaklah kurang dan tidaklah lebih. Pada diri mereka terdapat ahwal yang merupakan tanda-tanda di terimanya amal.
Ahwal mereka itu hanya bisa diketahui oleh wali-wali seatasnya, bukan wali-wali sebawahnya tingkatannya. (kitab Jami' Karomati Al Auliya' juz 1 hal: 70)


    Berkata Ibnu 'Arobi di dalam kitab Al-Futuhaat Al Makkiyah juz 2 hal:464 :
" Para wali Nujaba' di alam malakut memiliki Maqom (kedudukan rohani) yang bertempat di atas Kursi dan tidak akan bisa melampaui kursi itu selama masih menjadi wali Nujaba'.
Mereka memiliki keahlian menjalankan peredaran bintang-bintang, menurut pandangan ilmu Kasyf dan penglihatan batin.

Wali An-Nuqoba'

             Mereka dalam setiap zaman berjumlah 12 orang saja, tidaklah kurang atau lebih.
Mereka menguasai 12 kumpulan bintang yang beredar di cakrawala.
Alloh menjadikan mereka sebagai rujukan dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan Ilmu Syari'at.
Para wali Nuqoba' ini memiliki kewenangan untuk mengeluarkan keburukan-keburukan nafsu dan segenap tipu dayanya dari diri manusia.


            Wali Nuqoba' di Kasyf oleh Alloh Swt hingga mata batinnya bisa melihat Iblis dan segala keadaannya.
Sementara itu, Iblis sendiri tidak menyadari kalau seorang wali Nuqoba' bisa melihat dirinya.
Bahkan dari bekas telapak kaki yang di injak oleh seorang, wali Nuqoba' bisa mengetahui apakah orang tersebut tergolong AhlusSuhadah (ahli surga) atau AhlusSyaqowah (ahli neraka), sebagaimana ilmu yang di miliki oleh orang-orang yang memiliki ke ahlian mengenali jejak.





Itulah keterangan tentang Wali An-Nuqoba', semoga menjadikan manfaat bagi kita..
Amiiin

Wali Abdal

                   Wali Abdal adalah pengganti para Nabi. Manakala kenabian telah berakhir dengan diutusnya Nabi Muhammad Saw, maka sebagai penyambung dari para nabi ini adalah para wali Abdal.
(baca kitab Siroj athTholibin juz 1 hal:259).

      Berkata Abu al Baqo : " Menurut kaum sufi mereka berjumlah tujuh orang, tidak lebih dan tidak kurang".

      Mereka memperoleh kedudukan sebagai Wali Abdal bukan karena banyak melakukan puasa atau sholat, namun karena mereka bersungguh-sungguh dalam berwira'i, mempunyai niat yang baik dalam segala tindakan, berlapang dada dan selalu mengharap ridho Alloh Swt semata.
Mereka bersabar bukan karena takut kepada manusia dan bersikap rendah hati bukan karena terhina.

     Berkata Abu adDarda' di kitab Siroj athTholibin juz 1 hal 259 :
" Mereka itu terdiri dari 40 atau 30 orang lelaki dari golongan shiddiqin, hatinya menyamai keimanan Ibrohim Kholilulloh As. Apabila salah seorang diantara mereka mati, maka Alloh akan selalu mengangkat penggantinya".

     Para wali Abdal tidak pernah mengantuk, menyakiti, menghina atau merasa lebih tinggi dari mahluk lainnya. Mereka tidak pernah iri atas nikmat yang di anugrahkan Alloh kepada hamba-hambanya dan tidak pula rakus terhadap harta duniawi.

     Mereka memiliki pengetahuan yang luas, memiliki tabi'at yang lemah lembut, dermawan, wajahnya selalu berseri-seri dan tidak pernah diliputi kecemasan atau kelalaian, baik dalam menghadapi peristiwa yang sedang terjadi maupun peristiwa yang akan datang.

     Para wali Abdal selalu menetapi ahwal yang sama dan istiqomah dalam hal beribadah kepada tuhannya. Mereka tidak pernah terlelap oleh tiupan angin sepoi-sepoi dan tidak pula berpacu dengan kuda yang berlari kencang. Hati mereka menggapai keagungan tuhannya dan di landa rindu kesumat.
       
    Di riwayatkan dari Anas ra, Rosululloh Saw bersabda :
" Wali Abdal itu terdiri dari 40 orang laki-laki dan 40 orang wanita. Jika salah seorang lelaki diantara mereka ada yang wafat, maka Alloh akan menempatkan seorang lelaki untuk menggantikan kedudukannya. Dan jika seorang wanita diantara mereka ada yang wafat, maka Alloh akan menempatkan seorang wanita untuk menggantikan kedudukannya".

    Imam ath Thobroni di dalam kitab Al Awsath mengeluarkan sebuah hadist hasan, dimana Rosululloh bersabda : "Bumi ini tidak pernah sepi dari 40 orang lelaki yang menyamai Ibrohim yang bergelar Kholilurrohman. Dengan sebab mereka penduduk bumi mendapat siraman hujan dan pertolongan.
Apabila salah seorang diantara mereka wafat, maka Alloh menempatkan orang lain sebagai penggantinya".

Maqom para wali abdal itu disangga oleh 4 tiang yaitu :
1. Berdiam diri
2. Mengasingkan diri
3. Menahan lapar
4. Terjaga di malam hari





Itulah keterangan mengenai Wali Abdal, Semoga menjadi manfaat buat kita semua...
Amiiin

AKAR BAHAR TUMBUHAN UNIK KAYA MANFAAT